No icon

Refleksi Hardiknas, Ketua IKA UNJ Sebut Ada Tiga Ancaman Pendidikan

JAKARTA, PIKIRANJABAR – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi refleksi bagi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ). Setidaknya saat ini ada tiga ancaman yang ancaman bagi para generasi muda. Di antaranya, ancaman narkoba, kekerasan pada institusi pendidikan dan krisis kebangsaan. Hal tersebut diungkap oleh Ketua IKA UNJ, Juri Ardianto.

”Tujuan pendidikan adalah membentuk generasi yang memiliki bekal moral, intelektual dan kapasitas untuk kepentingan dirinya , bangsa dan negara. Namun demikian, akhir-akhir ini untuk mewujudkan tujuan-tujuan mulia tersebut, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin tidak ringan,” ungkap Mantan Ketua KPU RI kepada Pikiran Jabar, Selasa (01/05/2018).

Dia menjelaskan, ancaman pertama adalah penyalahgunaan narkoba. Pendidikan diklaim memiliki peranan dalam mengatasi penyalahgunaan narkoba. Ironinya, menurut data Puslitkes UI dan BNN terdapat sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Data lainnya, World Drugs Report 2016 sejak 2008 sampai 2015 telah terindikasi sebanyak 644 total NPS (new psychoactive substances) yang dilaporkan oleh 102 negara dan 65 jenis baru ini telah masuk ke Indonesia.

”Ancaman kedua adalah kekerasan pada institusi pendidikan. Kekerasan fisik maupun kekerasan mental ini sudah menjangkit ke pihak-pihak utama dalam institusi pendidikan, baik perorangan maupun kelompok,” jelasnya.

Kekerasan sudah dilakukan oleh antar anak murid, murid kepada guru atau sebaliknya guru kepada murid, orang tua murid dengan anak maupun guru. Ini sudah menunjukkan bahwa pendidikan sudah darurat akan kekerasan. Kekerasam tersebut seringkali tersebut secara berantai melalui jaringan media sosial.

Tantangan terakhir adalah krisis kebangsaan. Hal tersebut juga diperkuat juga oleh Survei Alvara Research Center. Di mana, lanjut dia, Alvara menemukan ada sebagian milenial atau generasi kelahiran akhir 1980-an dan awal 1990-an, setuju pada konsep khilafah sebagai bentuk negara. Survei dilakukan terhadap 4.200 milenial.

”Mayoritas milenial memang memilih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Namun ada 17,8 persen mahasiswa dan 18,4 persen pelajar yang setuju khilafah sebagai bentuk negara ideal sebuah Negara,” tegasnya.

Ditahun sebelumnya, survei BIN tahun memperoleh data bahwa 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam. Diungkap olehnya, angka-angka persentase pelajar dan mahasiswa memang sebagian kecil dari keseluruhan, tapi tidak boleh dibaca jumlah yang kecil.

Sebab, kata dia, baik narkoba, kekerasan dan paham anti kebangsaan Indonesia telah berkembang sangat signifikan. Pihaknya tidak ingin generasi Indonesia yang akan datang adalah generasi yang tidak memiliki kepasitas mumpuni untuk menyiapkan diri. Terutama guna menghadapi berbagai perubahan yang cepat dan gagap dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang indah ini.

”Selain itu, kami juga mendorong kesadaran publik untuk akan ancaman-ancaman pendidikan sekaligus mendesak pihak-pihak yang memiliki tugas dan kewenangan untuk bersama-sama mengambil inisiatif,” ucapnya.

Dia menambahkan, terutama dalam ranah kebijakan dan tindakan nyata untuk mengatasi 3 ancaman tersebut yang akan menganggu dan merusak tujuan pencapaian pendidikan.

Comment As:

Comment (0)